Pengaruh Blackberry

“Teknologi: mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat”. Adalah suatu pernyataan yang nampaknya relevan dengan keberadaan dan implikasi dari kehadiran teknologi komunikasi dewasa ini. Menjamurnya situs-situs pertemanan yang merupakan jejaring sosial seperti friendster, facebook, twitter, myspace dan sebagainya disertai dengan sambutan yang begitu hangat dari masyarakat dalam mempergunakan dan memanfaatkan produk-produk dunia maya tersebut dengan sebaik-baiknya dirasa memiliki pengaruh positif sekaligus dampak negatif bagi gaya dan kehidupan pergaulan masyarakat. Di satu sisi, situs pertemanan ini menjembatani komunikasi antara pihak-pihak yang berada dalam jarak yang begitu jauh bahkan dalam dimensi waktu yang berbeda. Orang-orang yang sebelumnya tidak pernah bertemu sekalipun “didekatkan” oleh facebook dkk ini. Kelancaran dalam berkomunikasi, mendekatkan hubungan antar teman, atau sekedar mencari kenalan, bukan lagi menjadi sebuah masalah karena situs-situs jejaring sosial ini telah menjembatani segalanya.
Kebutuhan manusia untuk bergaul dan bersosialisasi, menyalurkan kodratinya sebagai individu zoon politicon serta merasakan kebersamaan dan keakraban dengan pihak-pihak yang menjadi partner interaksinya, seakan telah betul-betul terpenuhi melalui pemanfaatan situs pertemanan ini.

Berbicara mengenai isu budaya terkait dengan teknologi komunikasi, maka kita pun akan dihadapkan pada dualitas implikasinya, yaitu positif dan negatif. Dikatakan positif karena dengan adanya teknologi komunikasi yang dapat memfasilitasi penyampaian berbagai informasi dan pemberitaan dari seluruh penjuru dunia, maka beraneka ragam budaya yang berasal dari luar suatu negara akan dapat masuk dan diserap oleh masyarakat negara yang bersangkutan. Hal ini akan mendorong masyarakat negara menjadi lebih terbuka dalam menanggapi hal-hal baru serta perubahan yang ada sebagai konsekuensi atas tingginya pemasukan budaya-budaya baru melalui akses internet ini. Arus informasi yang begitu cepat memicu terjadinya hal ini. Namun demikian perlu dicermati bahwasannya akan ada kemungkinan terjadinya cultural lag atau bahkan cultural shock yang dirasakan oleh masyarakat yang bersangkutan sebagai akibat ketidaksiapan mereka dalam menyerap dan mengadopsi budaya luar yang sedikit atau benar-benar berbeda dengan budaya lokal yang telah ada dan berkembang sebelumnya. Inilah yang menjadi cikal bakal timbulnya gaya hidup konsumerisme di kalangan masyarakat karena mereka hanya menyerap budaya baru yang masuk itu secara tidak utuh sehingga mereka tidak benar-benar mengetahui esensi dari pergeseran atau perubahan budaya yang mereka ikuti. Contohnya adalah kalangan remaja dewasa ini  yang beberapa di antaranya ikut-ikutan menggunakan ponsel blackberry hanya karena terpengaruh lingkungan pergaulan yang didominasi oleh para pengguna BB tersebut tanpa mengetahui dan memahami secara jelas signifikansi penggunaan gadget tersebut. Parahnya lagi, sikap individualistis, hedonisme bahkan sekularisme yang seakan semakin menjajal pola pikir dan perilaku masyarakat akibat pengaruh dari budaya luar yang jelas-jelas berbeda dengan tradisi budaya yang dimiliki (terlebih bagi masyarakat Asia yang berkonteks budaya tinggi; budaya Timur). Masyarakat seakan semakin diperbudak oleh teknologi yang menyebabkannya lalai dalam bersosialisasi, individu kian tunduk pada trend dunia dan segala sesuatu hal baru yang dipuja-puja masyarakat global, tanpa mengetahui esensinya dan hanya karena dilatarbelakangi perasaan takut terkucil atau tersisih. Menjadi seorang luddite atau bahkan laggard seakan menjadi momok yang benar-benar harus dihindari oleh individu jika tidak ingin disebut ketinggalan zaman atau menyandang predikat sebagai si gagap teknologi. Dan lagi-lagi, hal ini seringkali terjadi tanpa dilatarbelakangi alasan dan kepentingan yang jelas terhadap penggunanaan teknologi sehingga esensi dari pengadopsian budaya baru menjadi terabaikan.

Dalam menyikapi semakin meluasnya pengaruh teknologi komunikasi di segenap aspek kehidupan manusia, hendaknya kesadaran akan isu, pengaruh positif dan negatif yang diberikan teknologi komunikasi tersebut dapat dimiliki oleh tiap-tiap individu agar mereka mampu menampilkan sikap selektif dengan tetap berpartisipasi aktif menggunakannya dan menghindari dampak negatif sementara memanfaatkan hal-hal positif dari keuntungan yang diberikan teknologi komunikasi ini dalam ranah sosial, ekonomi, budaya dan politik. Intinya, tepat cara, tepat guna dan tepat sasaran merupakan pencapaian yang hendaknya ditargetkan oleh pihak-pihak yang mengadopsi dan memanfaatkan teknologi komunikasi di masa kini dan nanti.

Published in: Uncategorized on 19 October 2010 at 2:18 pm  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: https://juniditha.wordpress.com/2010/10/19/pengaruh-blackberry/trackback/

RSS feed for comments on this post.

One CommentLeave a comment

  1. […] <https://juniditha.wordpress.com/2010/10/19/pengaruh-blackberry/&gt; diunduh tanggal 13 september 2012 pukul 21.05 […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: