TERAPI KOGNITIF-BEHAVIORAL (CBT): PENANGANAN BABY BLUES

Tugas Softskills Psikoterapi

1. Pendekatan Kognitif-Behavioral Untuk Penanganan Baby Blues
Baby blues atau depresi pasca melahirkan adalah depresi yang dialami ibu setelah melahirkan yang berkaitan dengan perubahan mood yang parah dan persisten selama beberapa bulan atau bahkan setahun atau lebih.
Gejala depresi yang paling umum pasca-melahirkan adalah perasaan kosong yang luar biasa (emptiness), diikuti dengan perasaan lainnya seperti kehilangan nafsu makan, hilangnya kesenangan dalam hidup, energi dan motivasi, perasaan tidak berguna, tidak berharga, banyak menangis, tanpa harapan dan rasa bersalah yang keterlaluan, dan ketakutan yang luar biasa bayinya akan tersakiti atau disakiti orang lain.
Munculnya depresi pasca-melahirkan bisa dipicu oleh adanya depresi prenatal. Nancy K. Grote, Ph.D, MSW, Direktur Promoting Healthy Family Program School of Social Work dari Universitas Pittsburgh, menyebut beberapa tanda depresi prenatal. Misalnya, perasaan sedih, susah tidur, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, mudah marah dan tersinggung, merasa begitu lemah, merasa tidak berharga dan merasa bersalah, sulit berkonsentrasi dan berpikir jernih. Lebih parah lagi, depresi ketika hamil juga sering membuat penderitanya berpikir soal kematian dan tidak lagi bergairah untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti bersenda gurau, bekerja, makan, dan melakukan hubungan seks dengan suami. Tapi masalahnya, seringkali wanita hamil yang merasakan hal-hal di atas tidak menyadari bahwa dirinya sedang depresi.
Menurut Nancy, berbagai hasil penelitian membuktikan kalau depresi prenatal ini mendorong timbulnya depresi pasca-persalinan (postnatal) yang sering disebut dengan baby blues. Rangkaian depresi itu berakibat fatal, karena depresi postnatal bisa mengurangi kemampuan si ibu untuk membina kedekatan dengan bayinya. Akibatnya bayi pun tidak merasa aman berada di dekat ibunya sendiri.
Kondisi ini tentu sungguh memprihatinkan. Di Amerika, tercatat 10%-26% wanita mengalami depresi saat hamil. Jadi, tak ada tawar menawar lagi bagi wanita hamil yang menderita depresi. Mereka harus segera mencari bantuan agar ia terbebas dari depresi sebelum bayinya lahir. Jika tidak, ia tidak hanya mempertaruhkan dirinya, tapi juga masa depan anak-anaknya.
Banyak pemicu yang menyebabkan terjadinya depresi pasca-melahirkan. Di antaranya, depresi sebelum melahirkan, depresi yang tidak terkait dengan kehamilan, sindroma premenstruasi yang berat, perkawinan yang sulit, tak banyak anggota keluarga yang bisa diajak bicara, dan kehidupan penuh tekanan selama masa kehamilan dan melahirkan. Faktor endokrin diduga berperan dalam etiologi depresi pasca-melahirkan. Dalam kurun 1 sampai 42 hari setelah melahirkan, terjadi perubahan hormon estrogen dan progesteron yang sangat berarti.

2. Terapi Kognitif-Behavioral (Cognitive-Behavioral Teraphy/CBT) untuk penderita baby blues
Sebelum proses terapi dimulai, terapis perlu terlebih dahulu menjelaskan susunan terapi kepada subjek, yang meliputi penjelasan tentang sudut pandang teori terapi perilaku dan teori terapi kognitif terhadap perilaku yang tidak adaptif, prinsip yang melandasi prosedur terapi perilaku-kognitif, dan tentang langkah-langkah di dalam terapi. Penjelasan ini penting perannya untuk meningkatkan motivasi individu dan menjalin kerjasama yang baik. Perlu pula dijelaskan bahwa fungsi terapis hanyalah sebagai fasilitator timbulnya perilaku yang dikehendaki, dan individu yang berperan aktif dalam proses terapi (Ivey, 1993). Oleh karena itu individu harus benar-benar terampil menggunakan prinsip-prinsip terapi kognitif dan terapi perilaku dengan masalah yang dialaminya, dan peran terapis penting dalam mengajak individu memahami perasaannya dan teknik terapi yang efektif untuk terjadinya perubahan perilaku yang dikehendaki.
Pertama-tama untuk klien penderita baby blues, terapis berusaha mengubah pola pikir klien yang terdistorsi dengan pikiran yang lebih adaptif. Kecenderungan untuk membesar-besarkan pentingnya kegagalan kecil (merasa gagal menjadi ibu yang baik) adalah suatu contoh dari suatu kesalahan dalam berpikir yang disebut Beck sebagai distorsi kognitif. Psikiater David burns (1980) menyusun sejumlah distorsi kognitif yang diasosiasikan dengan depresi, yaitu :
1. Cara berpikir semua atau tidak sama sekali (all or nothing thinking)
Seorang penderita baby blues mungkin berpikir semua tentang suaminya baik dan semua tentang dirinya sendiri jelek.
2. Generalisasi yang berlebihan
Bagi ibu yang menderita baby blues, bayi yang sering menangis digeneralisasikan bahwa dirinya tidak bisa merawat bayi untuk selamanya.
3. Filter mental atau abstraksi selektif
Fokus pada unsur-unsur negatif saja dan menolak unsur-unsur positif. Ibu penderita baby blues hanya melihat hal negatif dari dirinya seperti gagal merawat bayi, mengecewakan suami.
4. Mendiskualifikasikan hal-hal positif
Menolak ucapan-ucapan positif dan mengingkari pencapaian-pencapaian yang telah dilalui. Biasanya ibu penderita baby blues mengingkari hal positif seperti dirinya telah mengandung selama 9 bulan, berjuang saat melahirkan dan susah payah merawat bayi. Yang dilihat hanya ketidakmampuannya merawat bayi sehingga bayi menangis terus dan mengecewakan suami.
5. Tergesa-gesa membuat kesimpulan
Ibu penderita baby blues menyimpulkan bahwa bayi yang terus menangis adalah karena dirinya gagal menjadi ibu yang baik dan menyimpulkan sifat suami yang acuh sebagai kesalahannya tidak bisa menjadi istri yang baik. Padahal belum tentu kesimpulannya benar.
6. Membesar-besarkan dan mengecilkan
Membesar-besarkan kesalahan bahwa dirinyalah yang bertanggung jawab mengapa bayi menangis terus. Suami yang kurang perhatian dianggap sudah tidak cinta lagi atau membencinya.
7. Penalaran emosional
Segala sesuatu ditanggapi dengan emosi bukan dengan pikiran. Ibu penderita baby blues menginterpretasikan perasaan dan peristiwa berdasarkan emosi dan bukan pada pertimbangan-pertimbangan yang adil terhadap bukti.
8. Pernyataan-pernyataan keharusan
Menciptakan perintah personal seperti sebagai seorang ibu harus bisa merawat anaknya, memberikan ASI dan juga membahagiakan suami. Ibu harus menjadi supermom yang bisa menghandel segalanya. Padahal tidak harus seperti itu.
9. Memberi label dan salah melabel
Memberi label pada dirinya sendiri bahwa ia bukan ibu yang baik dan tidak pantas menjadi ibu.
10. Melakukan personalisasi
Menganggap semua yang terjadi adalah kesalahannya. Dia yang bertanggung jawab atas masalah dan perilaku orang lain, seperti perilaku suami yang kurang perhatian dianggap sebagai kesalahan dia yang tidak bisa membahagiakan suami.

Pikiran-pikiran yang terdistorsi tadi terlebih dulu harus diubah sebelum melakukan tindakan lebih lanjut dan tugas terapis membantu klien mengubah pola pikir tadi menjadi pola pikir yang lebih adaptif dan rasional. Terapis menunjukkan pada klien bahwa dia mengalami depresi pasca-melahirkan yang biasanya dipengaruhi hormon, stres dan perubahan dalam tubuh sehingga klien memahami bahwa apa yang dialaminya adalah normal. Meyakinkan klien bahwa depresi tersebut bisa disembuhkan.
Teknik-teknik yang digunakan adalah relaksasi, pemantauan diri dan terapi kognitif. Sebelum klien mengungkapkan pikiran-pikirannya, klien diminta melakukan relaksasi dulu untuk menenangkan pikiran dibantu oleh terapis. Lalu setelah klien lebih relaks, terapis memulai terapi kognitif yaitu dengan mendorong klien mengungkapkan pikiran-pikiran yang muncul akibat kejadian yang mengecewakan, misalnya apa yang ada dalam pikiran klien saat bayi selalu menangis, suami yang tidak peduli, ASI yang tidak keluar, tidak ada dukungan sosial, frustasi karena bayi tidak mau tidur, kelelahan pasca melahirkan dan peristiwa-peristiwa lain yang mengecewakan.
Setelah klien mengungkapkan pikiran-pikiran negatif itu, terapis berusaha melihat hubungan antara pikiran dengan respons emosional klien. Dengan begitu terapis bisa membantah pikiran yang terdistorsi dari klien. Biasanya saat menghadapi peristiwa-peristiwa itu, klien selalu menyalahkan diri, bahwa semua yang terjadi adalah akibat kesalahannya (personalisasi), merasa tidak bisa jadi ibu yang baik sehingga mengalami ketakutan.
Setelah klien mengutarakan pikiran-pikirannya tersebut, terapis membantah dengan rasionalisasi, misalnya saat klien merasa tidak bisa jadi ibu yang baik, terapis bisa membantah dengan mengatakan “kenapa ibu merasa tidak bisa jadi ibu yang baik? padahal selama ini ibu merawat bayi ibu, menyayanginya, menyusuinya, rela terjaga tengah malam jika bayi menangis. Ibu juga berjuang dengan mengandung selama 9 bulan dan berjuang saat melahirkan dengan segala kemampuan yang ibu miliki bahkan nyawa sebagai taruhannya, benarkan? Ibu tidak harus melakukan semuanya sendirian, ibu juga tidak harus menjadi supermom.”
Terapis terus membantu klien mengubah pola pikir yang salah dari klien bahwa perasaan-perasaan depresi yang dialaminya berasal dari pikiran-pikiran negatifnya sendiri. Terapis membantu klien dalam menghubungkan pola-pola pikiran pada mood yang negatif dengan cara meminta mereka melakukan pemantauan diri, yaitu dengan memonitor pikiran-pikiran negatif otomatis yang mereka alami sepanjang hari menggunakan buku harian atau catatan harian. Terapis menyuruh klien menulis buku harian. Jadi ketika klien menghadapi peristiwa yang menyebabkan sedih atau takut, klien diminta menuliskan pikiran-pikiran yang muncul saat peristiwa itu terjadi.
Mengubah pola pikir saja tidak cukup, tetapi harus diikuti adanya perubahan perilaku (terapi perilaku). Ibu yang menderita depresi pasca-melahirkan biasanya takut menyentuh bayinya, tidak mau menyusuinya, atau menolak kehadiran bayi. Untuk itu, perlu adanya perubahan perilaku bagaimana agar ibu tersebut bisa mendekati bayinya tanpa takut, bisa menyusuinya, dsb.
Di sini terapi behavioral diperlukan untuk mengubah perilaku ibu. Setelah tadi klien diminta menulis buku harian, terapis memberikan reward jika klien bisa melakukan aktivitas tersebut. Klien diminta mulai melakukan aktivitas sehari-hari yang disukainya. Sedikit demi sedikit mulai mendekati bayi, jika merasa tegang atau takut, klien diminta melakukan relaksasi dulu.
Terus seperti itu sampai akhirnya klien berani mendekati bayinya. Perubahan pada pola pikir pasti akan menimbulkan perubahan perilaku. Saat klien sudah tidak menyalahkan diri sendiri lagi, sudah tidak membesar-besarkan atau sudah mengembangkan pikiran yang lebih adaptif dan rasional, maka perilaku klien dalam menghadapi bayi dan tugas barunya sebagai ibu akan berubah juga karena klien sudah bisa menerima keadaan. Berbagi pekerjaan dalam perawatan anak dengan suami, dan mencari kelompok pendukung adalah hal lain yang bisa dilakukan.
Dalam menangani depresi pasca-melahirkan, dukungan dari suami dan keluarga dekat sangat dibutuhkan guna mempercepat proses penyembuhan. Jangan sampai ibu yang menderita baby blues ditinggalkan dan merasa sendirian. Baik pihak penderita, suami, orangtua dan mertua harus tahu apa yang terjadi pada ibu agar bisa memberikan penanganan yang tepat.

 

** Baby Blues (stress setelah melahirkan). [online] Diambil tanggal 18 April 2008. Diambil dari http://www.dunia-ibu.org/html/baby_blues.html

Published in: Uncategorized on 13 April 2012 at 6:57 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://juniditha.wordpress.com/2012/04/13/terapi-kognitif-behavioral-cbt-penanganan-baby-blues/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: