DESAIN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

Apa itu penyakit mental?

Gangguan mental, penyakit jiwa, atau gangguan jiwa, adalah gangguan yang mengenai satu atau lebih fungsi mental. Penyakit mental adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berfikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Penyakit mental ini menimbulkan stress dan penderitaan.

Penyakit mental adalah penyakit yang melibatkan gangguan pada fungsi otak yang menyebabkan perubahan kepada proses pemikiran, perasaan dan tingkah-laku seseorang yang mengakibatkan gangguan untuk menjalani aktivitas dengan baik.
Penyakit mental secara prinsip dibagi dalam psikoneurosis dan psikosis. Kategori ini sesuai dengan awam tentang kecemasan dan kegilaan. Psikoneurosis merupakan keadaan lazim yang gejalanya dapat dipahami dan dapat diempati. Psikosis merupakan penyakit yang gejalanya kurang dapat dipahami dan tidak dapat diempati serta klien sering kehilangan kontak realita.

  • Permasalahan yang timbul adalah semakin kurang dan tidak meratanya penyebaran dokter spesialis jiwa atau pakar yang dapat mengatasi masalah penyakit depresi. Sehingga banyak masyarakat mengalami kesulitan bila ingin mendeteksi apakah mereka menderita penyakit depresi atau tidak.
  • Sistem pakar mendeteksi tingkat depresi seorang ini dapat mengetahui tingkat depresi yang diderita seseorang. Pengembangan sistem pakar pendeteksi depresi ini mengimplementasikan metode Case-based Reasoning sebagai basis pengetahuannya sedangkan mesin inferensi menggunakan metode Backward Chaining (biasa digunakan untuk masalah diagnosis).

Apa itu Depresi?
Pada kesempatan kali ini penulis mengambil salah satu penyakit mental yang berkaitan dengan Depresi. Depresi merupakan salah satu penderitaan yang sangat besar yang dialami manusia. Manusia memasuki fase depresi setelah ia tidak sanggup menahan beban pada fase stress.
Gangguan klinis utama terdapat pada axis I. Pada system DSM-IV-TR, gangguan ini disebut dengan sindrom-sindrom klinis, sekelompok sintom-sintom yang terdapat pada gangguan tertentu dari abnormalitas. Gangguan-gangguan tersebut seperti depresi yang oleh sebagian orang di golongkan sebagai gangguan psikologis. Seperangkat gangguan lain yang terdapat axis I adalah gangguan diri. Gangguan ini adalah reaksi terhadap peristiwa hidup yang ekstrim yang tidak biasa terjadi pada kehidupan pada umumnya. Reaksi yang diperhatikan harus berlangsung selama kurang lebih enam bulandan harus memperhatikan impairment yang signifikan atau keadaan stress pada individu. Gangguan penyesuaian diri dapat terlihat pada berbagai bentuk, bentuk yaitu reaksi emosianal, seperti kecemasan dan depresi: gangguan perilaku: keluhan jasmani: penarikan diri dari kehidupan social: atau penurunan pada prestasi kerja atau akademik.

Beberapa definisi depresi menurut para ahli:

Menurut Kaplan, depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta gagasan bunuh diri.

Menurut Hawari, depresi juga dapat diartikan sebagai salah satu bentuk gangguan kejiwaan pada alam perasaan yang ditandai dengan kemurungan, keleluasaan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa dan lain sebagainya.

Menurut Rice, depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

Menurut Kusumanto, depresi adalah suatu perasaan kesedihan yang psikopatologis, yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya aktivitas. Depresi dapat merupakan suatu gejala, atau kumpulan gejala (sindroma).

Menurut Kartono, depresi adalah kemuraman hati (kepedihan, kesenduan, keburaman perasaan) yang patologis sifatnya. Biasanya timbul oleh rasa inferior, sakit hati yang dalam, penyalahan diri sendiri dan trauma psikis. Jika depresi itu psikotis sifatnya, maka ia disebut melankholis.

Menurut Nugroho, depresi adalah suatu perasaan sedih dan yang berhubungan dengan penderitaan. Dapat berupa serangan yang ditujukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang mendalam.
Individu yang menderita suasana perasaan (mood) yang depresi biasanya akan kehilangan minat dan kegembiraan, dan berkurangnya energi yang menuju keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktiftas (Depkes).

Menurut Atkinson, depresi dianggap normal terhadap banyak stress kehidupan dan abnormal hanya jika ia tidak sebanding dengan peristiwa penyebabnya dan terus berlangsung sampai titik dimana sebagian besar orang mulai pulih.

Apa saja macam-macam depresi?
Orang yang terkena depresi umumnya menunjukkan gejala-gejala psikis, gejala fisik dan sosial yang khas. Orang tersebut berubah menjadi pribadi yang sering murung, sedih berkepanjangan, sensitif, mudah marah dan tersingggung, kehilangan percaya diri, konsentrasi, dan daya tahan.
Setiap orang mempunyai daya tahan yang berbeda dalam menghadapi depresi. Depresi yang dialami seseorang dibagi menjadi 3 macam:
1. Depresi ringan: ciri-cirinya tidak terlalu banyak mempunyai gejala depresi, berlangsung sekitar 2 minggu, masih mampu menghadapi kesulitan dan melakukan berbagai aktivitas.
2. Depresi sedang: ciri-cirinya tidak mempunyai banyak gejala depresi tapi lebih banyak dari depresi ringan.
3. Depresi berat: ada dua jenis depresi berat, yaitu depresi berat tanpa gejala psikotik dan depresi berat dengan gejala psikotik. Pada jenis pertama orang yang depresi mempunyai gejala yang jauh lebih banyak. Terkadang ia sudah malas berkomunikasi bahkan sudah tidak bisa melakukan kegiatan sosial dan pekerjaan lainnya. Pada depresi berat dengan psikotik biasanya orang itu sudah mengalami gangguan-gangguan psikotik seperti halusinasi dan waham.

Apa saja jenis-jenis depresi?
Berikut adalah berbagai jenis depresi:
1. Depresi Mayor
Depresi Mayor termasuk jenis yang paling umum dari depresi. Orang yang menderita ini sering akan terlihat atau pengalaman perasaan bahwa seluruh dunia di pundak nya. Orang akan selalu tampak tidak tertarik dalam semua kegiatan yang biasa ia biasanya tidak dengan mudah. Orang juga merasa bahwa ia akan selalu berada dalam keadaan putus asa. Orang juga akan kehilangan minat pada aktivitas seksual. Orang mungkin juga mengalami perubahan dengan nya atau selera makannya. Dia baik dapat makan lebih banyak atau makan kurang.
Biasanya ketika orang mengatakan depresi atau depresi klinis, mereka lihat gangguan depresi berat. Pada gangguan ini, orang biasanya akan tidak menemukan minat dalam kegiatan yang mereka gunakan untuk menikmati sebelumnya. Mereka akan berada dalam suasana hati yang depresi dan menderita kelelahan, rasa bersalah dan perasaan tidak berharga.
Penderita akan merasa sulit untuk berkonsentrasi pada apa pun. Mereka bahkan bisa mendapatkan pikiran untuk bunuh diri dalam kasus yang ekstrim. Jika seseorang mengalami gejala seperti depresi klinis untuk jangka waktu seperti lebih dari 2 bulan, maka mungkin saja kasus gangguan depresi berat.
2. Atypical Depresi
Depresi ini sedikit berbeda dari depresi besar karena itu benar-benar variasi dari depresi. Kebahagiaan dan kegembiraan kadang-kadang dialami oleh orang yang menderita. Depresi ini termasuk gejala makan berlebihan, berat badan, lebih dari tidur, dan kelelahan. Penderita depresi atipikal percaya bahwa itu adalah faktor-faktor luar seperti keberhasilan, perhatian, dll pujian,, yang mengontrol suasana hati mereka. Seseorang menderita depresi semacam ini akan menderita selama berbulan-bulan atau mungkin hidup dengan itu selamanya.
3. Depresi Psikotik
Seseorang yang menderita depresi psikotik akan percaya bahwa ia melihat dan mendengar hal-hal yang tidak benar-benar ada. Dia atau dia akan mengalami halusinasi yang menderita lebih umum dari skizofrenia. Halusinasi orang yang depresi melihat bukan citra positif. Sebaliknya itu adalah halusinasi menakutkan atau menakutkan.
4. Dysthymia
Seseorang hanya akan berjalan berkeliling mencari benar-benar biru, melankolis, atau sedih. Ini adalah suatu kondisi yang kebanyakan orang tidak pernah akan menyadari, tetapi mereka terpengaruh oleh itu. Mereka hanya hidup dengan kondisi ini dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak menikmati kehidupan mereka karena mereka selalu merasa tidak penting, takut atau tidak puas. Ada obat untuk jenis obat yang dapat membantu banyak.
5. Manic Depresi
Ini juga dikenal sebagai gangguan bipolar. Dalam hal ini, suasana hati pasien akan beralih antara tertinggi dan terendah. Akan ada fluktuasi besar dalam suasana hati dengan periode mood tinggi dan kemudian periode suasana hati yang rendah. Periode mood ditinggikan disebut sebagai manic episode. Hal ini dapat berlangsung berjam-jam dan kadang-kadang bahkan berhari-hari atau minggu. Kemudian pasien akan memukul mood rendah.
Ini jenis orang yang menderita depresi semacam ini memiliki perubahan suasana hati cepat. Manic depressive memiliki tingkat tinggi yang bunuh diri.
6. Postpartum Depression
Semacam ini depresi hits perempuan setelah melahirkan anak. Selama kehamilan, banyak perubahan hormon terjadi di dalam tubuh. Karena ini, mood juga bisa terpengaruh. Postpartum depresi juga disebut ‘baby blues’. Kadang-kadang, gangguan ini mungkin lenyap hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu.

Apa saja penyebab depresi?
1. Faktor genetik atau faktor keturunan.
2. Efek samping obat-obatan tertentu.
3. Kepribadian yang introvert.
4. Peristiwa yang bersifat emosional, terutama setelah kehilangan orang yang sangat dicintai.

Apa Gejala Depresi?
Depresi memiliki berbagai gejala dan akan mempengaruhi setiap orang dengan cara yang berbeda. Gejalanya: merasa sangat sedih, gangguan pola tidur, kehilangan minat dan motivasi, merasa tidak berharga atau bersalah, kehilangan kesenangan dalam kegiatan, kecemasan, perubahan nafsu makan, hilangnya kepentingan seksual, fisik aches dan pains, gangguan berpikir atau konsentrasi.
Gejala depresi vegetatif biasanya penderita lebih menarik diri dari pergaulan, tidak mau makan, tidak mau tidur, dan jarang berbicara. Sementara itu, penderita depresi agitsi akan meremas-remas tangannya, terlihat gelisah, dan lebih banyak berbicara.

Bagaimana Cara Mengatasi Depresi?
TERAPI
Terapi yang dapat dilakukan untuk menurunkan tingkat depresi adalah terapi kognitif perilaku. Dengan terapi kognitif perilaku terjadi perubahan pikiran negatif menjadi pikiran positif, mampu menciptakan aktivitas menyenangkan, mampu mengidentifikasi pikiran positif dan negatif serta mampu bersikap asertif dan meningkatkan kualitas hidup (Haeba dan Moordiningsih, 2009).

Selain itu, dengan Coping With Depression (CWD-A) yang termasuk dalam pemberian intervensi Cognitive – Behavioral Therapy (CBT). Terdapat beberapa aspek-aspek yang diukur mealui kuisioner terkait, yaitu Demographic Variables (sex, age, and race/ethnicity), Depression Spesific Psychopathology Factors (age of first MDD (Major Depressive Disorder) onset, number of prior MDD episodes, depression severity, suicidal ideation), Broader Psychopathology Factors (current ADHD, current substance disorder, durrent anxiety disorder, functional impairment, and parent report of problem behaviors), CBT-Specific Psychosocial Factors (negative thoughts, dysfunctional attitudes, hopelessness during the past week and frequency of pleasant events), dan Resiliency Psychosocial Factors (social adjustment, family cohesion, and coping skills) (Rohde, Seeley, Kaufman, Clarke, dan Stice, 2006).

Hal tersebut sama dengan yang telah disebutkan dalam Nevid dkk (2005), yaitu terapi behavioral berfokus pada membantu orang dengan meningkatkan frekuensi reinforcement dalam kehidupan mereka melalui cara-cara seperti meningkatkan jumlah aktivitas yang menyenangkan dimana mereka berpartisipasi dan membimbing mereka dalam mengembangkan keterampilan social yang lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam memperoleh reinforcement sosial dari orang lain. Misalnya, program terapi kelompok dengan 12 sesi selama 8 minggu yang diorganisasikan sebagai suatu kursus, Coping With Depression (CWD) Course.

Terapi dapat juga dengan pemberian obat-obatan antidepresan dan mengkombinasikannya dengan pemberian treatment lainnya. Monroe dkk (2006), pasien yang mengalami gangguan diberikan treatment bulanan yaitu, Maintenance Interpersonal Psychotherapy (IPT-M), IPT-M dengan impiramine (obat andtidepresan), IPT-M dengan placebo, impiramine dan check up secara rutin ke klinik, dan placebo dengan check up secara rutin ke klinik. Melakukan pengobatan secara aktif, dapat mengurangi kemungkinan gangguan depresi berulang.

Nevid dkk (2005) menyatakan bahwa obat-obatan anti depresan dapat meningkatkan tingkat (berfungsinya) otak dan mungkin fungsi dari neurotransmitter, walaupun memiliki efek tunda, biasaya membutuhkan beberapa minggu (rata-rata 2-8 minggu) penanganan sebelum suatu manfaat terapeutik dicapai. Durand-Barlow (2006) menjelaskan, adanya efek samping ketika mengkonsumsi obat-obatan anti depresan seperti penglihatan kabur, mulut kering, konstipasi, kesulitan buang air kecil, mengantuk, berat badan bertambah dan mungkin disfungsi seksual. Berdasarkan analisis rangkuman dari lebih dari 100 studi (American Psychiatric Association, 2000; Depression Guideline Panel, 1993), tricyclic (imipramine, amitriptyline, desipramine, dan doxepin) mengurangi depresi pada kira-kira 50% pasien dibanding dengan dengan kira-kira 25%-30% yang minum pil placebo.

Psikoterapi interpersonal yaitu piskoterapi yang fokus pada hubungan interpersonal untuk meningkatkan hubungan dan kemampuan komunikasi serta konsep diri individu. Penekanannya adalah disini dan sekarang dan pada masalah spesifik bahwa pengalaman orang-orang depresi pada masa sekarang. Individu diajarkan cara mengatasi masalah-masalah hidup dan keadaan depresi dengan belajar perilaku adaptif baru untuk meningkatkan ketrampilan interpersonal dan komunikasi, terapis interpersonal cenderung fokus pada empat masalah potensial dalam pengalaman hidup orang depresi yaitu kesedihan, perselisihan peran interpersonal, peran transisi, dan deficit interpersonal.

Pendekatan herbal yaitu dengan St John’s Wort bunga berwarna kuning, umumnya tumbuh di alam liar. Obat herbal ini diyakini oleh banyak orang menjadi pengobatan yang efektif untuk beberapa bentuk depresi.

Terapi tertawa, sebagaimana penelitian yang telah dilakukan Nugraheni (Sulistyowati, 2009) tentang pengaruh tertawa terhadap depresi pada usia lanjut di Wirosaban. Tingkat depresi sesudah dilakukan terapi tertawa sebagian besar tidak terjadi depresi.

Terapi dari pandangan psikoanalisis, terapi ini menyelediki jiwa pasien serta membawa impuls-impuls dan perilaku bawah sadar pasien ke permukaan.

Terapi musik klasik, penelitian ini dilakukan oleh Jumiatun (Sulistiyowati, 2009) yang menunjukkan adanya perbedaan perilaku antara sebelum dan sesudah diberikan terapi musik klasik pada pasien.

SUMBER

  1. Rice P.L. (1999) Stress and Health, 3rd Edition, Brookes/Cole.
  2. Kusumanto, R., Iskandar, Y., 1981. Depresi, Suatu problema Diagnosa dan Terapi pada praktek umum. Jakarta: Yayasan Dharma Graha.
  3. Kartono, Kartini. 2002. Patologi Sosial 3, Gangguan-gangguan Kejiwaan. Jakarta: Rajawali Pers.
  4. Tarigan, C., Julita 2003. Perbedaan Depresi Pada Pasien Dispepsia Fungsional dan Dispepsia Organik. Diakses dalam http://www.usu.go.id.
  5. http://www.news-medical.net/health/Depression-(Indonesian).aspx
  6. http://www.anneahira.com/depresi.htm
  7. http://www.journal.uad.ac.id/index.php/HUMANITAS/article/download/246/94
  8. Haeba, Haerani Nur, & Moordiningsih. (2009). Terapi Kognitif Perilaku dan Depresi Pasca Melahirkan. Jurnal Intervensi Psikologi, 1, 41-68.
  9. Rohde, Seeley, Kaupman, Clarke, and Stice. (2006). Predicting Time to Recovery Among Depressed Adolescent Treated in Two Psychosocial Group Interventions. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 74, 80-88.
  10. Monroe, et all. (2006). Life Stress and The Long-Term Treatment Course of Recurrent Depression : III. Nonserve Life Events Predict Recurrence for Medicated Over 3 Years. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 74, 112-120.
  11. Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2005). Psikologi Abnormal. Edisi Kelima. Jilid Pertama. Jakarta : Penerbit Erlangga.
  12. Durand, V. Mark, & Barlow, David H. (2006). Psikologi Abnormal. Edisi Keempat. Jilid Pertama. Jogjakarta : Pustaka Pelajar.
  13. Haeba, Haerani Nur, & Moordiningsih. (2009). Terapi Kognitif Perilaku dan Depresi Pasca Melahirkan. Jurnal Intervensi Psikologi, 1, 41-68.
  14. http://wsilfi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/4339/M1_Pengenalan_SP%5B1%5D.pdf
  15. http://lenterajiwaku.files.wordpress.com/2012/05/minggu8.pdf
  16. http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?option=com_repository&Itemid=34&task=detail&nim=113010090

JUNI ASRI DITHA
11509701
4PA05

# Tugas Sosftskill SIP ke 6
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA

Published in: Uncategorized on 4 November 2012 at 7:38 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: https://juniditha.wordpress.com/2012/11/04/desain-sistem-informasi-psikologi/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: